<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147</id><updated>2012-02-16T10:49:10.454-08:00</updated><category term='Penataan Daerah'/><category term='Otonomi Daerah'/><title type='text'>Slamet  Luwihono</title><subtitle type='html'>Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan
namun bagaimana bertanding dengan baik (Baron Pierre de Coubertin)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147.post-5815110019071976599</id><published>2008-08-19T22:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T22:21:49.994-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penataan Daerah'/><title type='text'>Pemekaran Daerah atau Wilayah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: Slamet Luwihono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Maraknya tuntutan pemekaran daerah yang seolah tidak terbendung merupakan dampak dari &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kebijakan desentralisasi yang mulai diterapkan pada era reformasi tahun 1999. Kebijakan desentralisasi tentu bukan faktor tunggal karena ada faktor penyebab lainnya yang sebagai faktor pendorong&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tuntuitan pemekaran daerah seperti perubahan situasi politik di Indonesia. Dewasa ini fenomena pemekaran daerah menjadi wacana yang ramai dan tidak asing lagi dibicarakan masyarakat Indonesia mulai dari masyarakat ”biasa”, akademisi, politisi, para&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aktivis demokrasi, dan lain-lain. Bahkan Profesor Eko Budiaharjo menggambarkan bahwa istilah ”pemekaran” seolah sudah menjadi semacam mantra, atau virus yang menyebar ke segenap pelosok Nusantara (&lt;i style=""&gt;Kompas, &lt;/i&gt;19/01/2008). Tidak dapat dipungkiri dalam perkembangannya pemekaran daerah telah menjadi komoditas politik, sosial, dan ekonomi di Indonesia pada masa transisi demokrasi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penambahan Daerah Baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari perspektif kewilayahan, terminologi ”pemekaran” menurut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Profesor Eko Budihardjo merupakan istilah yang salah kaprah karena dalam ”pemekaran” wilayah yang terjadi bukan pemekaran tetapi lebih tepat penciutan atau penyempitan wilayah (&lt;i style=""&gt;Kompas, 19/01/2008). &lt;/i&gt;Dari perspektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kewilayahan memang istilah ”pemekaran” tidak tepat digunakan mengingat dengan ”pemekaran” suatu daerah justru mengalami penyempitan bukan perluasan wilayah. Dalam melihat pemekaran daerah banyak perspektif yang bisa digunakan antara lain perspektif hukum dan kebijakan, perspektif penataan wilayah, perspektif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;politik administrasi pemerintahan, dan lain-lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari perspektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;politik administrasi pemerintah pusat, pembentukan daerah baru merupakan upaya penambahan jumlah daerah baru (kota/kabupaten/propinsi) atau bisa disebut pemekaran. Ini ditunjukkan, paling tidak sejak reformasi tahun 2009 hingga awal 2008 telah terbentuk 164 pemekaran daerah baru (&lt;i style=""&gt;Policy Paper DRSP) &lt;/i&gt;dan pada&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;pertengahan 2008 telah terbentuk 191 penambahan daerah baru terdiri dari tujuh provinsi, 32&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kota, dan 152 kabupaten (&lt;i style=""&gt;Kompas, 19/01/2008). &lt;/i&gt;Ini berarti selama kurun kurang lebih enam bulan saja telah mengalami pemekaran daerah sebanyak 27&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daerah. Dengan penambahan daerah baru tersebut maka beban anggaran yang harus ditanggung oleh pemerintah pusat akan bertambah. Dengan penambahan daerah baru (propinsi, kabupaten/kota) akan terjadi penambahan jumlah kepala daerah dan struktur di bawahnya yang itu semua membutuhkan biaya rutin. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Padahal kalau kita simak, tahun sebelumnya (2007) pemerintah pusat telah melakukan upaya pengendalian pembentukan daerah baru dengan secara gencar menyerukan moratorium pemekaran. Pada tahun 2007 itu pula pemerintah mencoba mengubah Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Pemekaran (PP 129 tahun 2000) yang disinyalir oleh banyak pihak sebagai penyebab maraknya tuntutan pemekaran dengan PP yang baru (PP 78/2007) yang mencantumkan persyaratan pemekaran yang relatif lebih sulit. Tetapi tuntutan pemekaran tetapbergaung keras. Maraknya tuntutan pemekaran telah membuat pemerintah pusat kewalahan terutama karena beban keuangan yang harus ditanggung akibat penambahan daerah baru semakain meningkat. Sementara itu dampak positif bagi masyarakat kurang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;signifikan dibandingkan dengan pengeluaran anggaran yang yang dikeluarakan oleh pemerintah pusat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="bodytext" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Percik bekerjasama dengan &lt;i style=""&gt;Democratic Reform Suport Program&lt;/i&gt; (DRSP), salah satu daya tarik tuntutan pembentukan daerah baru adalah adanya kebijakan dana perimbangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terdiri dari Dana Aloksi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK). Pada 2003, sebanyak 22 kabupaten/kota baru sebagai hasil pemekaran sepanjang 2002 telah menerima DAU sebesar Rp1,33 triliun. Jumlah ini terus meningkat pada APBN 2004, 40 daerah hasil pemekaran 2003, telah menerima DAU Rp2,6 triliun (&lt;i style=""&gt;Syaril Syahrial &lt;/i&gt;dalam&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;a href="http://www.lpem.org/"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;http://www.lpem.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;). Besarnya jumlah transfer DAK dan DAU telah menjadi daya tarik yang bisa mengesampingkan pertimbangan lain. Apabila benar bahwa faktor ekonomi ini telah mendominasi tuntutan pemekaran maka sependapat yang dengan Jusuf Kalla &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;Kompas, &lt;/i&gt;16/10/2007) semangat pemekaran daerah ini telah mengingkari semangat otonomi daerah, karena yang terjadi adalah ketergantungan daerah terhadap pemerintah pusat terutama dalam pembiayaan pembangunan daerah. Dalam hal ini kita seing lupa bahwa otonomi harus dimaknai bukan hanya kemandirian kewenangan tetapi harus dimaknai juga sebagai upaya kemandirian finansial (pembiayaan). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="bodytext" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Komoditas Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam perspektif politik, pemekaran daerah telah dijadikan komoditas politik oleh elite-elite untuk mewujudkan ambisi politiknya, misalnya oleh elite yang gagal dalam pilkada. Isu-isu dimarginalkannya satu etnis oleh etnis lain dikomodifikasi sedemikian rupa dan direproduksi terus menerus oleh elite politik untuk mempercepat proses pemekaran. Pemekaran menjadi alat perjuangan politik yang justru mengesampingkan kepentingan rakyat. Itulah sebabnya meskipun di beberapa daerah pemekaran dirasakan manfaatnya antara lain dengan adanya peningkatan pelayanan publik tetapi di beberapa tempat belum membuahkan hasil yang signifikan. Sebagai contoh, dari sebuah pemberitaan (&lt;i style=""&gt;Kompas, 3/11/07,) &lt;/i&gt;meskipun pada tahun 2007 Maluku Utara menginjak usia delapan tahun sejak berdiri sebagai daerah baru, ternyata kemiskinan masih merajalela. Pemerintah yang baru masih belum mampu mengelola sumber daya alam yang berlimpah-limpah, pejabat cenderung, sibuk mengejar dana dekonsentrasi dan melupakan kekayaan alamnya sendiri. Bahkan sampai sekarang, Maluku Utara terus didera konflik berkepanjangan pasca Pemilihan Gubernur.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada peristiwa lain, pemekaran daerah telah menjelma menjadi ajang bagi perluasan praktek-praktek korupsi. Dengan meningkatnya transfer DAU dan DAK, maka semakin banyak proyek yang dikerjakan di daerah baru. Transfer dana dari pusat yang berupa DAU dan DAK yang diharapkan bisa menciptakan kesejahteraan rakyat ternyata jauh panggang dari api. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk meletakkan cita-cita pemekaran pada relnya, menurut hemat saya melakukan pembenahan di level kebijakan saja belumlah cukup. Pembenahan juga harus dilakukan pada level kesadaran politik para elite terutama yang ingin menjadi pelayan publik supaya tidak menjadikan pemekaran sebagai komoditas politik semata. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk meluruskan semangat pemekaran pada jalur semula &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/724704931144413147-5815110019071976599?l=slametluwihono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/5815110019071976599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=724704931144413147&amp;postID=5815110019071976599' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/5815110019071976599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/5815110019071976599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/2008/08/pemekaran-daerah-atau-wilayah.html' title='Pemekaran Daerah atau Wilayah?'/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147.post-7911120487163837452</id><published>2008-08-13T20:11:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T20:15:09.342-07:00</updated><title type='text'>Kalau Bisa Mengelak Mengapa Harus Mengakui?</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: &lt;i&gt;Slamet Luwihono&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar orang terperangah mendengar kasus penangkapan Jaksa Urip Tri Gunawan (UTG) oleh KPK karena diduga menerima suap dari Artalyta Suryani (Ayin) yang diikuti adanya indikasi keterlibatan pejabat-pejabat tinggi di Kejaksaan Agung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Belum lagi peristiwa yang mencoreng wajah hukum di Indonesia surut dari pembicaraan umum, kita kembali disuguhi dengan berita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penangkapan seorang anggota DPR, Al Amin Nasution, yang tertangkap tangan menerima suap dari Sekretaris Daerah Bintan, Azirman, terkait perubahan kawasan hutang lindung di Bintan. Dalam waktu dan kasus yang berbeda disusul kemudian adanya penangkapan anggota DPR Yusuf Erwin Faisal dan Bulyan Royan. Lebih menghebohkan lagi ada kurang lebih 52 orang anggota Komisi IX periode 1999-2004 menerima dana Bank Indonesia antara Rp 250 juta sampai Rp 1 Milyart seperti diungkapkannya oleh Hamka Yandu. Kalau semua dugaan itu benar, DPR sebagai tempat dari para wakil rakyat untuk memperjuangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepentingan rakyat dalam kenyataannya telah melukai hati rakyat dengan ambisi-ambisi pribadinya dalam menumpuk kekayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Buntut dari peristiwa-peristiwa tersebut kita kembali disuguhi berbagai macam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;trik dan strategi berupa penyangkalan, bantahan, dan pengelakan dari tuduhan yang tujuannya satu, untuk menyelamatkan diri, mempertahankan nama baik, dan juga mempertahankan jabatan yang masih disandangnya. Bentuk bantahan tersebut diskenario sedemikian rupa dalam sesuatu yang seolah-olah rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Daya Tarik Uang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang menduduki jabatan di pemerintahan apakah itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jaksa, bupati, sekretaris daerah, anggota legislatif, jaksa, dan lain-lain telah melakat identitas baik personal maupun kelompok sebagai yang terhormat. Dalam masyarakat yang kapitalistik, penghargaan terhadap seseorang sering&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dilekatkan dengan kekayaan materiil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kekayaan materiil telah menjadi sumber utama memperoleh kekuasaan baik formal maupun non formal. Dalam kasus jaksa UTG misalnya, kita dapat melihat bagaimana Ayin demikian “berkuasanya” di lingkungan Kejaksaan Agung sehingga bisa mengarahkan skenario persidangan kepada seorang jaksa sekaliber UTG dan bahkan mungkin dua pejabat penting di Kejaksaan Agung. Kuat indikasi keberhasilan seorang Ayin masuk dalam lingkaran Kejaksaan Agung tidak lepas dari penguasaan Ayin terhadap kekayaan material yang dimiliki serta kemampuan membagi-bagikannya di kalangan pejabat kejaksaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Harga diri bagi pejabat dan pengusaha yang dalam masyarakat menempati posisi yang terhormat harus dijaga sedemikian rupa oleh yang memilikinya. Segala perbuatan yang bisa menurunkan kehormatan harus ditutupi dan dibantah sedemikian rupa. Dalam rangka mempertahankan harga diri dan identitas personal/kelompok itu para pejabat dan sebagian anggota DPR&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sedang terkena kasus dugaan suap beramai-ramai melakukan penyangkalan dan pengelakan.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;Mekanisme pertahanan diri&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kehidupan bermasyarakat tentu kita tidak asing dengan pengelakan atau penyangkalan. Pengelakan dan penyangkalan ini merupakan upaya menutupi diri dari sesuatu atau perbuatan yang bisa menurunkan harga diri. Umumnya orang-orang terpandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ingin selalu kelihatan “bersih” di mata masyarakat. Jaksa yang sering menangani kasus suap-menyuap tidak mau kelihatan kalau dia sendiri justru menjadi penerima suap. Anggota DPR yang terhormat yang sudah digaji tinggi ditambah fasilitas yang begitu banyak tidak mau kelihatan kalau ia melakukan pemerasan dan minta uang suap. Para pejabat tersebut pasti tidak mau apabila kekurangan dalam hal moralitas tersebut ketahuan oleh masyarakat banyak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagaimana kita melihat jaksa UTG dan Ayin membungkus perbuatan suap dengan bungkus pertama-tama jual beli permata yang oleh Kejaksaan Agung diterima mentah-mentah sebagai suatu kebenaran. Indikasi penerimaan Kejaksaan Agung terhadap pengelakan jaksa UTG ini terlihat dari penerapan sanksi oleh Kejaksaan Agung kepada jaksa UTG dengan alasan melanggar kode etik kejaksaan karena melakukan jual beli permata. Menurut Kejaksaan Agung seorang jaksa tidak etis &lt;i&gt;nyambi&lt;/i&gt; sebagai pedagang permata. Kejaksaan Agung telah menjadi penguat dari pengelakan UTG. Upaya Kejagung ini tentu bukan tanpa alasan, karena bagaimanapun pengungkapan suap yang melibatkan UTG akan berpengaruh terhadap posisi Kejagung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perjalanannya, bungkus jual beli permata UTG ini diganti&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;dengan bungkus bisnis perbengkelan yang mungkin dianggap lebih rasional. Dalam hal ini UTG mungkin lebih berpengalaman melakukan penyangkalan karena dia seorang jaksa yang kesehariannya berhadapan dengan “kriminal” yang kebanyakan melakukan penyangkalan terhadap dakwaan. Demikian juga Azirman yang membungkus uang suap sebesar 33 ribu dolar Singapura sebagai uang untuk membeli mobil di Jakarta. Ada upaya dibawah sadar dari Azirman untuk menyelamatkan diri dari situasi yang sedang mengancamnya. Apabila tidak tertangkap tangan, pengelakan yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengatakan tidak menerima uang suap itu, seperti yang ramai-ramai dikemukakan oleh para anggota Komisi IX DPR periode 1999-2004 yang disebut oleh Hamka Yandu menerima aliran dana BI. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bisnis permata, perbengkelan, jual beli mobil, dan bahkan mengaku tidak menerima uang suap tentu dianggap lebih “bersih” dari pada menerima suap yang selain bisa menurunkan harga diri juga bisa memasukkan para pejabat itu ke penjara bahkan sampai ke pemecatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam perspektif psikologi, penyangkalan dan pengelakkan bisa dipahami sebagai apa yang oleh Freud disebut sebagai “&lt;i&gt;ego defenses&lt;/i&gt;” (pertahanan-pertahanan ego). Ketika para pejabat tersebut berada dalam situasi yang mencemaskan, mengancam harga diri, ketidakberdayaan, dan situasi-situasi lain yang akan membahayakan diri (posisi/jabatan) maka akan muncul upaya-upaya untuk bisa keluar dari situasi demikian. Penyangkalan dan pengelakan merupakan upaya melindungi diri fakta-fakta yang sebenarnya yang memalukan dan menjadi ancaman. Selanjutnya Freud menyatakan bahwa mekanisme pertahanan diri melibatkan unsur penipuan diri (Zainun Mu’tadin, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.e-psikologi.com/"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;http://www.e-psikologi.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penyelenggaraan pemerintahan yang baik tidak ditunjukkan oleh kepintaran para pejabatnya melakukan penyangkalan dan pengelakan untuk menutupi perbuatan tercelanya, tetapi bagaimana para pejabat bisa menjaga kepercayaan masyarakat dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merasa malu melakukan perbuatan yang bisa mencoreng martabat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai seorang birokrat. Upaya menyelamatkan diri dari sanksi hukum, moral dan sosial lebih baik tidak dilakukan dengan penyangkalan dan pengelakan tetapi dengan tidak melakukan perbuatan melanggar hukum dan perbuatan yang bisa melukai hati rakyat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/724704931144413147-7911120487163837452?l=slametluwihono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/7911120487163837452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=724704931144413147&amp;postID=7911120487163837452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/7911120487163837452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/7911120487163837452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/2008/08/kalau-bisa-mengelak-mengapa-harus_13.html' title='Kalau Bisa Mengelak Mengapa Harus Mengakui?'/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147.post-373772003777497330</id><published>2008-08-13T20:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-13T20:10:34.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Otonomi Daerah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/724704931144413147-373772003777497330?l=slametluwihono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/373772003777497330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=724704931144413147&amp;postID=373772003777497330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/373772003777497330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/373772003777497330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/2008/08/blog-post.html' title=''/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147.post-4041354645026653804</id><published>2008-08-05T18:34:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T18:36:19.020-07:00</updated><title type='text'>KAUM BORO: Refleksi Kehidupan Desa-Kota</title><content type='html'>&lt;p class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-weight: normal;"&gt;Oleh : Slamet&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luwihono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoSubtitle" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bukan upaya yang mudah untuk memberikan gambaran tentang desa dan kota secara utuh, disamping karena kompleksitas permasalahan yang ada di desa maupun di kota juga karena sifat dinamis desa dan kota sebagai akibat pembangunan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Gambaran yang diberikan sekarang tentang desa atau kota belum tentu relevan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk kondisi dua tahun mendatang. Dengan demikian pembahasan tentang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;desa seringkali tidak dapat dilepaskan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari terjadinya perubahan sosial desa yang demikian cepat. Rogers dalam bukunya &lt;i&gt;Social Change in Rural Societies: An Introduction to Rural Sociology, &lt;/i&gt;memandang perubahan sosial sebagai suatu proses yang melahirkan perubahan-perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di dalam struktur dan fungsi dari suatu sistem kemasyarakatan.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Perkembangan yang cepat tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentunya tidak lepas dari perkembangan teknologi pertanian dan juga perubahan struktur perekonomian dan politik. Perubahan sistem produksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;telah membawa perubahan yang mendasar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada system pertanian yang pada gilirannya berdampak pada perubahan kehidupan masyarakat pedesaan sebagai petani atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menggantungkan hidupnya pada pertanian di pedesaan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Secara sosiologis, Maschab menggambarkan desa sebagai suatu bentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kesatuan masyarakat atau komunitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penduduk yang bertempat tinggal dalam suatu lingkungan di mana mereka saling mengenal dan corak kehidupan mereka relatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;homogen serta banyak bergantung pada alam. Lebih jauh lagi Maschab menyebukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa desa diasosiasikan dengan satu masyarakat yang hidu sederhana, pada umumnya hidup dari lapangna pertanian, ikatan sosial, adat dan tradisis masih kuat, sifat jujur dan bersahaja, pendidikannya relatif masih rendah dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam perkembangannya, sebagai akibat dari arus modernisasi sebagian desa telah mengalami perubahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara drastis dan jauh dari kondisi-kondisi yang banyak digambarkan oleh para ahli. Modernisasi sebagai satu pendekatan pembangunan telah juga membawa perubahan sosio-kultur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;desa. Dalam konteks yang demikian, desa tidak lagi bisa didefinisikan sebagai tempat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat tertentu yang masih jujur dan bersahaja, lugu dan masih menjalin ikatan-ikatan sosial secara informal. Meskipun demikian, dalam kenyataannya dampak modernisasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap masyarakat desa memang tidak dapat digeneralisir. Secara nyata masih ada masyarakat desa yang masih hidup mematuhi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tradisi dan adat istiadat turun temurun, dan banyak diantaranya dalam kondisi tidak maju atau terbelakang menurut ukuran modernitas. Desa di Badui dalam atau pada umumnya desa-desa di luar Jawa misalnya merupakan masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang masih menjunjung tinggi kepercayaan tradisional dan adat sehingga derasnya arus modernisasi tidak mampu mempengaruhi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan masyarakat. Sebagian desa lagi, terutama desa-desa di luar Jawa, secara geografis terletak sangat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jauh dari dunia modern&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehingga sulit untuk dijangkau dan akibatnya tidak mudah untuk dipengaruhi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Pada masa lampau penduduk pedesaan pada umumnya hidup dengan sistem subsisten, tetapi paradigma modernisasi telah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengubah &lt;i&gt;mode of production &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari tidak berorientasi keuntungan ke berorientasi pada keuntungan. Dengan perkembangan-perkembangan yang ada di pedesaan dalam kenyataannya untuk kasus-kasus desa tertentu terutama di Jawa dari karakteristik dan fisik menjadi sulit membedakan antara desa dengan kota. Perbedaan-perbedaan desa-kota sangat tepat dinilai dengan indikator yang mengukur kesejahteraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara langsung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Demikian juga kesehatan dan hidup mengandung nilai universal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan demikian memberikan ukuran yang mengandung validitas lintas - kultural.&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt; Indikator kesejahteraan ini lebih dimaknai sebagai kesejahteraan secara ekonomi. Kota dipandang lebih sejahtera&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;daripada desa yang tidak sejahtera dari ukuran ekonomi. Pemaknaan yang demikian ternyata berdampak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap cara pandang orang desa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap keadaan kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang digambarkan sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjanjikan ketersediaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sumber-sumber ekonomi untuk kesejahtreraan. Sementara itu desa dipandang sebagai tempat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang sulit sebagai tempat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk meningkatkan kesejahteraan. Terlepas dari tingkat kebenaran cara pandang tersebut, cara pandang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari sisi kesejahteraan ini telah menjadi salah satu pendorong orang-orang desa berpindah (melakukan urban) ke kota dalam rangka untuk meningkatkan sumber penghasilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Fenomena &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menjadi upaya yang sering ditempuh oleh masyarakat desa yang merasa kesulitan meningkatkan kesejahteraan ekonominya untuk pergi ke kota. &lt;i&gt;Boro &lt;/i&gt;menjadi upaya alternatif bagi masyarakat desa untuk mencari pekerjaan ke kota karena tertutupnya peluang mencari pekerjaan di desa yang dipandang tidak dapat menjanjikan. Meskipun &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;mengandung resiko-resiko sosial, psikologi, ekonomi dan lain-lain, kesenjangan kesejahteraan desa-kota yang begitu drastis lebih menyingkirkan pertimbangan-pertimbangan atas dasar resiko-resiko tersebut. Apa peranan yang diberikan oleh kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;terhadap kehidupan sosial&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di desa asalnya dan bagaimana&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kehidupan kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dalam menjalani kehidupan di kota yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan sosial di desa asalnya ? Permasalahan-permasalahan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut yang akan menjadi fokus pembahasan dalam tulisan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="ES"&gt;Kaum &lt;i&gt;Boro &lt;/i&gt;dan Peranannya Dalam Kehidupan Sosial Desa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="ES"&gt;Pengertian &lt;i&gt;boro&lt;/i&gt; dalam konteks ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian migrasi musiman seperti yang dikemukakan oleh Alan Gilbert &amp;amp; Josef Gugler. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;Gilbert dan Gugler&lt;a style="" href="#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;mendeskripsikan migrasi musiman sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 26.7pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm 5.4pt; width: 382.7pt;" valign="top" width="510"&gt;   &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;"Pemisahan keluarga seringkali menciptakan   bentuk migrasi musiman. Setelah masa kerja yang mungkin berakhir 6 bulan atau   2 tahun, migran tersebut kembali lagi untuk bermukim dengan keluarga besar   mereka.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam kasus yang ideal ,   kepulangan kaum migran bersamaan dengan&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;kebutuhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan tenaga kerja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di sawah atau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ladang di desa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di beberapa tempat, kaum migran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi tenaga kerja kontrakan , misalnya,   tenaga mereka digunakan dalam masa&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;yang telah ditentukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan   disediakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;biaya transport untuk   pulang pergi. Berulangnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perpindahan   musiman ini umum sifatnya, sehingga banyak kaum migran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang bertambah luas pengalaman kotanya.   Upaya spekulasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;migrasi musiman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan respon awal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;"masyarakat tradisional"&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap peluang-peluang baru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mendapatkan upah dan barang   manufaktur, untuk menunjukkan kepada&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;"orang-orang primitif" yang sedang membuat barang pintas   untuk masuk ke dalam suatu lingkungan yang asing."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Dari deskripsi tentang migrasi musiman tersebut, kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dapat digunakan untuk menunjuk sekelompok orang desa yang pergi merantau &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;ke kota untuk mencari pekerjaan. Biasanya masyarakat desa terutama di Jawa, menyebut kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dengan sebutan &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada umumnya &lt;i&gt;wong boro &lt;/i&gt;ini tinggal di kota selama lebih kurang tiga hingga enam bulan untuk bekerja mengumpulkan penghasilan, selanjutnya mereka pulang kembali ke desanya untuk menjenguk keluarga dan atau tidak pulang tetapi mengirim penghasilan yang mereka peroleh selama bekerja di kota.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Setelah pulang di desa asalanya selama kurang lebih satu bulan mereka kembali ke kota untuk bekerja. Tidak jarang juga &lt;i&gt;kaum boro &lt;/i&gt;ini pulang ketika musim tanam telah tiba, karean tenaga mereka dibutuhkan selama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;musim tanam di desa tersebut. Setelah musim tanam selesai, kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;ini kembali ke kota sedangkan yang merawat tanaman adalah anggota keluarga yang tinggal di desa. Biasanya dalam melakukan &lt;i&gt;boro, &lt;/i&gt;kaum &lt;i&gt;boro&lt;/i&gt; tidak mengajak keluarganya (suami dan anak-anaknya). Dengan demikian&lt;i&gt; boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;merupakan adaptasi terhadap pemisahan keluarga: &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;sebagai bentuk migran yang pulang secara teratur kepada keluarganya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam jangka waktu yang lama dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dia tetap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;aktif terlibat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam permasalahan keluarga besar, dan urusan desanya (lihat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Alan Gilbert &amp;amp; Josef Gugler, 1996: 76).&lt;sub&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/sub&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Determinan perilaku migrasi ini bisa dianalisis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam beberapa kerangka sistem antara lain:&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm 5pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Sistem &lt;i&gt;preferensi&lt;/i&gt;, menggambarkan ketertarikan relatif pada berbagai tempat sebagai tujuan dari para&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelaku migrasi potensial. Suatu daya tarik wilayah merupakan perimbangan antara nilai-nilai positif dan negatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang ditawarkan wilayah tersebut. Diantara nilai-nilai positif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang paling penting adalah prospek pekerjaan dengan penghasilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang lebih baik dari pada di desa tempat asalnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Namun, &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;ini juga berdampak pada nilai-nilai negatif berupa gangguan terhadap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hubungan interpersonal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;denga kerabat dan teman-teman di desa serta kebutuhan untuk mempelajari adat istiadat baru di desa asal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm 5pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Sistem harga, menjelaskan biaya-biaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berupa uang, energi dan waktu yang digunakan untuk melakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm 5pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Total sumber daya, yang tersedia untuk semua tujuan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga mempengaruhi keputusan untuk melakukan &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Disamping&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;determinan-determinan tersebut, &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;juga menimbulkan dampak sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm 5pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Dapat meningkatkan penghasilan bagi kaum &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;Bersamaan dengan konskuensi positif ini terdapat konskuensi lain bernilai negatif bagi pembangunan masyarakat desa berupa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerugian di bidang investasi karena investasi yang semula dimaksudjkan untuk menyelenggarakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan memberi pendidikan pada anak-anak tetapi pada akhirnya setelah dewasa mereka membaktikan dirinya di tempat lain karena desa dipandang tidak menjanjikan dari sisi materi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm 5pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Boro &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;dapat mengurangi (meskipun kadang kurang signifikan) ketidakseimbangan/kesenjangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendapatan antara kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- desa. Ini bisa terjadi karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;cenderung bergerak dari wilayah berpendapatan rendah (desa) ke wilayah berpendapatan tinggi (kota).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Dari sisi perilaku sosial, kehidupan kota yang meskipun dijalani secara singkat telah dapat merubah pola kehidupan desa. Begitu &lt;i&gt;kaum boro &lt;/i&gt;sampai di kota ia dituntut untuk beradaptasi perilaku yang memungkinkan ia mencapai keberhasilan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ekonomi secara efektif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang datang dalam jangka waktu yang singkatpun tidak lagi sepenuhnya bersikap seperti orang desa. Meskipun mereka pada tahap-tahap awal kedatangan ke kota mampu mempertahankan pola dan gaya kehidupan desa dan mampu memegang nilai-nilai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;desanya tetapi desakan/tuntutan untuk menyesuaikan dengan kehidupan kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat kuat sehingga nilai-nilai, gaya hidup dan pola kehidupan desa tergeser. Pertimbangan utama pergeseran nilai, gaya dan pola hidup lebih didominasi oleh pertimbangan adanya kesempatan memperoleh peningkatan ekonomi. Komitmen yang dimiliki kebanyakan kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;terhadap komunitas asal dapat menjadikan untuk tidak menjalani kehidupan kota di kota secara penuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Investasi sosial sering juga dilakukan oleh kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;berupa pengiriman uang ke keluarga mereka, membantu famili untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengikuti pendidikan di kota. Semua itu dilakukan seringkali bukan atas dasar kerelaan untuk berinvestasi mengembangkan desanya tetapi di balik semua itu tersembunyi kepentingan yaitu untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka di desa asalnya. Dalam benak mereka tidak ada keinginan untuk selamanya bermukim di kota dan suatu waktu akan kembali ke desa asalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Diantara kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dalam satu kota&lt;i&gt; &lt;/i&gt;biasanya terjalin ikatan yang kuat dan komunikasi selalu dijaga. Misalnya orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;yang baru pulang ke kampungnya (biasanya kepulangan ke kampung tidak dilakukan secara bersamaan) sering membawa informasi dari desa asalnya untuk disampaikan ke orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;lainnya sehingga orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;tidak ketinggalan perkembangan informasi di desanya. Mereka selalu mendapat informasi jika ada orang yang mempunyai iakatan keluarga di desanya sedang sakit, tetangganya yang hendak mempunyai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;hajatan &lt;/i&gt;(pesta perkawinan, misalnya), tentang pembangunan yang yang hendak dilaksanakan di desanya bahkan tentang dinamika politik lokal didesanya seperti pemeilihan kepala desa atau kepala dusun. Orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;yang pulang seringkali dijadikan sarana/media informasi yang mempunyai peranan strategis bagi kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dalam rangka tetap menjalin hubungan-hubungan sosial di desanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Peran Kaum Boro Dalam Pembangunan Desa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Dari sisi ekonomi kaum &lt;i&gt;boro&lt;/i&gt; dipandang lebih mempunyai kekuatan finansial yang riil dari pada orang desa yang tetap tinggal dan bekerja sebagai petani di desa. Karena pendangan yang demikian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;seringkali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi sasaran mobilisasi bagi pembangunan fisik di desa. Peranan kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dalam pembangunan desa ini dideskripsikan oleh Dwi Wuryaningsih sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 26.7pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm 5.4pt; width: 14cm;" valign="top" width="529"&gt;   &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;"Pembangunan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terbesar&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;yang dilakukan di Desa Kedungringin adalah jembatan Sungai Serang.   Pembangunan jembatan sungai serang yang kono menghabiskan dana ratusan juta   rupiah didukung oleh seluruh warga desa&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;baik ulama, warga setempat maupun orang-orang &lt;i&gt;boro......... &lt;/i&gt;Pada   hari lebaran banyak orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang pulang ke kampung. Matdarto (cat. Ketua   Kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kedungringin di   Jakarta) mengumpulkan orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;itu di rumahnya. Dalam   pertemuan itu Matdarto menyampaikan gagasannnya untyuk merenovasi Masdjid di   Dusun Krajan. Gagasan itu disambut baik oleh orang-orang &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;Untuk   merealisasikan gasgasan tersebut, Matdarto, mengadakan pertemuan bagi orang-orang   &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;setelah mereka sampai di   Jakarta untuk mengumpulkan sumbangan dari orang-orang &lt;i&gt;boro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Demikian juga yang disampaikan oleh Matharto,   pengurus kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;di Jakarta dari dusun Krenceng, Desa Kedungringan   bahwa pembangunan di dusunnya banyak mendapat sumbangan dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kaum &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;Ditambahkan pula oleh   Matharto jika ide pembangunan di dusunnya datang dari Pak kadus, jalannya   pemabngunan itu seringkali menemui kendala. Karean Pak kadus hanya sebatas   mempunyai ide saja sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dana   masih harus mencari dari sumbangan warga&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;yang belum tentu setuju&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan   gagasan Pak kadus. Berbeda jika ide&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;pembangunan datang dari&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;orang-orang &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;Selain ide, orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;juga mempunyai   dana untuk membiayai pembangunan itu"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Selain kekuatan finansial secara riil yang dimiliki oleh kaum boro yang dapat menunjang pembangunan fisik di desa seperti dupaparkan dalam hasil penelitian di atas, ternya kaum &lt;i&gt;boro&lt;/i&gt; juga mempunyai kekuatan politik yang dapat mempengaruhi dinamika [politik lokal di pedesaaan sebagaimana dipaparkan di bawah ini:&lt;/span&gt;&lt;a style="" href="#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoNormalTable" style="border: medium none ; margin-left: 26.7pt; border-collapse: collapse;" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="border: medium none ; padding: 0cm 5.4pt; width: 14cm;" valign="top" width="529"&gt;   &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;"Terpilihnya Hadi Nurdin sebagai kades,   tidak terlepas dari peran kaum &lt;i&gt;boro. &lt;/i&gt;Semenjak orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;di Jakarta mendengar bahwa Hadi Nurdin   hendak maju sebagai calon Kades, mereka menyatakan kesanggupannya untuk   mendukung Hadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nurdin. Hubungan yang   terjalin dengan baik antara hadi Nurdin dengan orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;telah   melatarbelakangi dukungan orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam pencalonnanya. Ketika Hadi Nurdin   kuliah di IKIP Negeri Jakarta dan tinggal bersama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kakaknya, ia cukup dekat dengan orang-orang   &lt;i&gt;boro&lt;/i&gt;. Seringkali orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang mendapat kesulitan, datang kepada Hadi   Nurdin untuk meminta bantuannya. Hal inilah yang menjadikan munculnya   kedekatan orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan Hadi Nurdin."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Dari kedua paparan tersebut di atas dapat diketahui bahwa pandangan orang desa yang masih tetap tinggal dan bekerja di desa terhadap orang-orang &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah didominasi pandangan yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan. Dalam kenyataannya memang tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendapatan kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dapat dikatakan lebih baik daripada orang-orang yang tetap tinggal di desa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karena pandangan yang demikian tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seringkali dijadikan tumpuan untuk meminta bantuan baik bantuan yang bersifat individual maupun yang bersifat untuk kepentingan masyarakat desa seperti pembangunan tadi. Selain sebagai tempat meminta dukungan finansial, kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ternyata juga dijadikan tempat memobilisai masa untuk pencarian dukungan politik seperti dukungan dalam pencalonan Kades. Dukungan politik dalam pencalonan kadesa ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari adanya kemmapuan finansial yang dimiliki kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengingat pencalonan kades seringkali tidak dapat dilepaskan dari &lt;i&gt;money politic. &lt;/i&gt;Diharapkan selain dukungan suara memang dukungan uang juga bisa diberikan oleh kaum &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Kesenjangan tingkat kesejahteraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara desa dengan kota telah menjadi faktor pendorong terjadinya &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dari sisi ekonomi, kota yang dipandang lebih sejahtera daripada desa telah mendorong orang desa untuk melakukan &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;ke kota untuk meningkatkan kesejahtraannya. Pabrik modern dan peluang adanya lapangan kerja di kota telah menanamkan harapan baru bagi masyarakat desa untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya. Alasan ekonomi menjadi alasan yang dominan terjadi arus &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;dari desa ke kota. Ini ditunjukkan dengan adanya fenomena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dari wilayah yang tingkat kesejahteraan ekonomi rendah ke wilayah yang mempunyai tingkat kesejahteraan tinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;Bagi masyarakat desa fenomena b&lt;i&gt;oro &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;telah membawa dampak baik yang bersifat positif maupun negatif. Bersifat positif karena secara fisik dapat membantu pelaksanaan pembangunan dan peningkatan pendidikan dengan kemampuan ekonomi yang dimiliki. Sedangkan dampak negatifnya adalah terjadinya proses pemaksaan perilaku kehidupan kota di desa yang seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di desa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Terlepas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari dampak yang ditimbulkannya, fenomena &lt;i&gt;boro &lt;/i&gt;merupakan dampak dari penerapan pembangunan dengan pendekatan/paradigma pertumbuhan yang berpusat pada kota-kota besar. Karena pertumbuhan dirasa tidak dapat menetes ke wilayah pedesaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka orang-orang desalah yang harus menjemput pembagian hasil pembangunan dengan datang ke kota. Dengan cara demikianlah hasil pembangunan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat didistribusikan ke&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;wilayah-wilayah desa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: Tahoma;"&gt;Daftar Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;Alan Gilberrt dan Josef Gugler&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;, 1996, &lt;i&gt;Urbanisasi dan Kemiskinan Di Dunia Ketiga, &lt;/i&gt;Tiara wacana, Jogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;A. Surjadi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;, 1995, &lt;i&gt;Pembangunan Masyarakat Desa&lt;/i&gt;, Mandar Maju, Bandung, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;Bahreit T. Sugihen&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;, 1997, &lt;i&gt;Sosiologi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pedesaan (Suatu Pengantar), &lt;/i&gt;RajaGrafindo Persada, Jakarta,&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;C. Dwi Wuryaningsih&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;, 2001, &lt;i&gt;Kiprah Kaum Boro Dalam Kehidupan Masyarakat Desa: Studi Tentang Kaum Boro Di Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semrang,&lt;/i&gt; Makalah disajikan pada Seminar Dinamika Politik Lokal P3PL-Petrcik, di Bandungan, tanggal 26 Juni 2001.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;Machievelli&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;, 2002, &lt;i&gt;Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, &lt;/i&gt;PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, edisi kedua,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm 4pt 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -63.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;Suhartono&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Tahoma;"&gt;, 2001, &lt;i&gt;Politik Lokal Parlemen Desa: Awal Kemerdekaan Sampai Jaman Otonomi Daerah&lt;/i&gt;, Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;*******&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Bahreit T. Sugihen, 1997, &lt;i&gt;Sosiologi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pedesaan (Suatu Pengantar), &lt;/i&gt;RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 55). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lihat Suhartono, 2001&lt;i&gt;, Politik Lokal Parlemen Desa: Awal Kemerdekaan Sampai Jaman Otonomi Daerah&lt;/i&gt;, Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta, hal. 17-18.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 4pt 0cm;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Lihat juga A. Surjadi, 1995, &lt;i&gt;Pembangunan Masyarakat Desa&lt;/i&gt;, Mandar Maju, Bandung, hal. 5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 4pt 0cm;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Alan Gilberrt dan Josef Gugler, 1996, &lt;i&gt;Urbanisasi dan Kemiskinan Di Dunia Ketiga, &lt;/i&gt;Tiara wacana, Jogyakarta, h. 58.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; Alan Gilbert &amp;amp; Josef&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gugler,1996, &lt;i&gt;Urbanisasi dan Kemiskinan Di Dunia Ke Tiga, &lt;/i&gt;Tiara Wacana Jogja, Yogyakarta, hal. 76.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt; Machievelli, 2002, &lt;i&gt;Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, &lt;/i&gt;PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, edisi kedua, hal 662.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial;" lang="SV"&gt;C. Dwi Wuryaningsih, 2001, &lt;i&gt;Kiprah Kaum Boro Dalam Kehidupan Masyarakat Desa: Studi Tentang Kaum Boro Di Desa Kedungringin, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semrang, &lt;/i&gt;Makalah disajikan pada Seminar Dinamika Politik Lokal P3PL-Percik, di Bandungan, tanggal 26 Juni 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/724704931144413147-4041354645026653804?l=slametluwihono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/4041354645026653804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=724704931144413147&amp;postID=4041354645026653804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/4041354645026653804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/4041354645026653804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/2008/08/kaum-boro-refleksi-kehidupan-desa-kota.html' title='KAUM BORO: Refleksi Kehidupan Desa-Kota'/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-724704931144413147.post-8772906709678964214</id><published>2008-08-05T00:15:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T01:07:16.757-07:00</updated><title type='text'>KONSEP DAN MEKANISME PELAYANAN PUBLIK DASAR</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn1" name="_ednref1" title=""&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;Oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=""&gt;Slamet Luwihono&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn2" name="_ednref2" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam masa transisi otonomi daerah ini, kesejahteraan masyarakat hendaknya tetap menjadi acuan dalam merumuskan peran pemerintah. Perumusan ulang tentang peran pemerintahan meerupakan bagian dari reformasi sistem pemerintahan, selain penataan kelembagaan pemerintahan dari tingkat pusat sampai daerah. Dengan perumusan ulang tentang peran pemerintah, maka dapat dipetakan fungsi-fungsi penyelenggaraan pemerintahan dalam pelayanan publik, kerena salah satu fungsi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah penyelenggaraan pelayanan publik. Dalam penyelenggaraan pelayanan publik sudah barang tentu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak dapat dilayani secara keseluruhan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh pemerintah pusat dan untuknya perlu didistribusikan ke daerah. Dalam konteks yang demikian, sistem desentralisasi menjadi penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Desentralisasi ini dimaknai sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn3" name="_ednref3" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan demikian otonomi bukanlah hanya pelaung tetapi sekaligus sebagai tantangan untuk menggapai kesejahteraan rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam sistem otonomi daerah telah terjadi perpindahan sebagian kewenangan yang tadinya berada di pemerintahan pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehingga daerah otonom dapat lebih tanggap terhadap tuntuntan masyarakat berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki oelh masyarakat di daerah tersebut. Bangunan sistem dan kelembagaan menjadi penting dilakukan sebagai dasar merancang standard pelayanan publik yang optimal. Idealnya otonomi daerah memberi dampak nyata dalam peningkatan layanan oleh pemerintah kepada masyarakat. Pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah membuka peluang terjadinya penyelenggaraan layanan dengan jalur birokrasi yang lebih ringkas dalam peningkatan layanan publik. Kemajuan teknologi juga diharapkan menjadi alternative terpenuhinya prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat. Prinsip-prinsip tersebut hendaknya menjadi acuan dalam penyelenggaraan pelayanan oleh pemerintah di setiap tingkatan pemerintahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk terjaminnya kesejahteraan social, konstitusi kita menjamin setiap orang: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="square"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“…. berhak hidup sejahtera lahir dan      batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan      sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“…. berhak mendapatkan kemudahan dan      perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna      mencapai persamaan dan keadilan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;“…. berhak atas jaminan social yang      memungkinkan pengembangan dirinya secar utuh sebagai manusia yang      bermartabat; dan berhak mempunyai hak milik tersebut tidak boleh diambil      alih secara sewenang-wenang oleh siapapun…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk memenuhi hak warga negara tersebut Negara mempunyai kewajiban:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;“…. mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;“…. bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berdasarkan desentralisasi pelayanan public, telah terjadi pembegian kekuasaan dan/atau wewenang untuk merencanakan, memutuskan, dan/atau mengelola fungsi public dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Berkaitan dengan desentralisasi pelayanan publik, berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal 13 dan 14, pemerintah daerah mempunyai fungsi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penyediaan sarana dan prasaran umum;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penanganan bidang kesehatan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penyelenggaraan pendidikan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penanggulangan masalah sosial;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;pelayanan bidang ketenagakerjaan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;pelayanan pertanahan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;pelayanan kependudukan dan catatan sipil;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;palayanan administrasi umum pemerintahan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;pelayanan administrasi penanaman modal;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;§&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. Pelayanan Publik: Pengertian, Jenis, Prinsip, dan Asas&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.1.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Pengertian&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Seiring dengan penerapan sistem desentralisasi, pelayanan publik akhir-akhir ini menjadi diskusi yang hangat dan menjadi perhatian di kalangan masyarakat. Sebelumnya, isu-isu pelayanan publik ini kurang menjadi perhatian karena berkembang asumsi bahwa pelayanan publik itu hanyalah urusan pemerintah saja, mulai dari proses perumusan kebijakan, implementasi, sampai dengan evaluasi. Masyarakat seringkali tidak bisa mengakses segala informasi yang berkaitan dengan pelayanan publik ini. Penyelenggaraan Negara yang semakin transparan telah berdampak pada kesadaran orang untuk ikut terlibat dalam proses pelayanan publik baik dalam proses perumusan kebijakan, implementasi, sampai dengan evaluasi, dan pengawasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dari sisi administrasi Negara, pelayanan publiok dipahami sebagai&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn4" name="_ednref4" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;“segala kegiatan layanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah sebagai upaya pemenuhan kebutuhan orang, masyarakat, instansi pemerintah dan badan hukum sebagai pelaksanan ketentuan peraturan perundang-undangan”&lt;/i&gt;. Dalam era globalisasi dengan kondisi persaingan yang cukup ketat dan penuh tantangan, aparatur pemerintah dituntut untuk bisa memeberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat dan berorientasi kepada kebutuhan masyarakat. Kualitas layanan kepada masyarakat ini menjadi salah satu indicator dari keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penyelenggaraan negara, terdapat asas-asas umum yang harus dijadikan acuan pemerintah dalam melakukan layanan public.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn5" name="_ednref5" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Negara sebagai organisasi publik, pada dasarnya dibentuk untuk penyelenggaraan layanan masyarakat dan bukan dimaksudkan untuk berkembang menjadi besar dan mematikan organisasi publik lainnya.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn6" name="_ednref6" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Meskipun organisasi publik memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan organisasi bisnis, tidak ada salahnya dalam opersionalnya menganut paradigma yang dianut dalam organisasi bisnis, yaitu, efisien, efektif, dan tetap menempatkan masyarakat sebagai stakeholder yang harus dilayani dengan sebaik-baiknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Menurut salah satu kajian yang dilakukan oleh Komisi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hukum Nasional (KHN), pelayanan publik diartikan sebagai: “suatu kewajiban yang diberikan oleh konstitusi atau undang-undang kepada pemerintah untuk memenuhi hak-hak dasar warna Negara atau penduduk atas suatu layanan (publik)”.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn7" name="_ednref7" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Pengertian menurut KHN ini secara tegas menekankan bahwa pelayanan publik merupakan &lt;u&gt;kewajiban&lt;/u&gt; pemerintah (negara). Batasan ini berbeda denga batasan yang diberikan oleh Menpan yang mendefinisikan pelayanan publik hanya sebagai &lt;u&gt;kegiatan&lt;/u&gt; instansi pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada hakekatnya penyelenggaraan pelayanan publik merupakan amanat yang diberikan rakyat kepada penyelenggara negara (ekskutif dan legislatif) untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Peningkatan kesejahteraan ini dilakukan dengan memprioritaskan pelayanan-pelayanan dasar bagi masyarakat. Dalam kenyataannya, masih sedikit dari masyarakat yang bisa memahami pekayanan publik sebagai hak dan bukan pemberian pemerintah, apalagi seluk beluk permasalahan yang ada dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Sebagian masyarakat masih menyederhanakan pemahaman tentang pelayanan publik yang diartikan sebagai pemberian pemerintah. Dengan pemahaman yang sederhana itu, ketika sebagian rakyat memahami pelayanan public sebagai pemberian dari pemerintah, masyarakat memahami pelayanan public sebagai aktivitas belanja yang menggunakan uang pemerintah. Pemahaman yang demikian akan membawa akibat masyarakat akan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan pelayanan public itu kepada pemerintahan, karena dalam pandangan masyarakat tersebut uang yang dibelanjakan untuk pelayanan public itu milik pemerintah. Masyarakat merasa tidak memiliki hak mencampuri pengelolaan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dengan demikian pemahaman yang benar tentang pelayanan publik ini menjadi penting. Pelayanan public harus dijadikan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan kegiatan yang dibiayai dengan uang uang public. Pelayanan publik ini mempunyai arti penting terutama bagi pencapaian kesejahteraan masyarakat. Kebijakan pelayanan publik haruslah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditujukan untuk menghormati (&lt;i style=""&gt;to respect), &lt;/i&gt;melindungi (&lt;i style=""&gt;to protect&lt;/i&gt;) dan memenuhi &lt;i style=""&gt;(to fulfill) &lt;/i&gt;hak-hak dasar manusia. Menurut Jim St. George&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn8" name="_ednref8" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, pengertian hak-hak dasar manusia tersebut sebagai hak ekonomi, sosial, dan budaya, yakni hak-hak dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu untuk membebaskan dirinya dari kemiskinan, keterasingan, dan keterbelakangan. Termasuk di dalamnya adalah hak untuk memperoleh makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pekerjaan. Penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak dasar itulah yang harus menjadi prioritas terpenting&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari pemerintah dalam menetapkan anggaran publik sebagai produk kebijakan. Ketiga tersebut (penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat) hendaknya dijadikan acuan dalam penyusunan kebijakan pelayanan publik. Apakah kebijakan pelayanan public pro rakyat atau tidak sebenarnya dapat dilihat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antara lain dari paling tidak apakah memang kebijakan pelayanan public memenuhi ketiga hal tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;essensi dasar dari kebijakan pelayanan public adalah implementasi pengelolaan uang masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat, maka peran masyarakat dalam management pelayanan public mempunyai makna yang penting. Peran masyarakat di sini penting dilakukan untuk menghindari berbagai penyimpangan yang akhirnya justru merugikan masyarakat. Peran tersebut tidak hanya terjadi pada proses pelaksanaan tetapi sebaiknya mulai dari proses perencanaannya, supaya dalam proses perencanaan disusun dengan memperhatikan berbagai kepentingan, saran, dan kritik dari masyarakat. Semestinya penyusunan kebijakan pelayanan public memenuhi tiga syarat, yaitu:&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn9" name="_ednref9" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(1) Si pembuat keputusan dapat dimintai pertanggungjawaban oleh public (&lt;i style=""&gt;accountable); &lt;/i&gt;(2) Prosesnya tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sehingga tidak mengindikasikan adanya korupsi dan kolusi &lt;i style=""&gt;(transparent); (3) &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Proses itu juga terbuka untuk mengakomodasi opini kritis khalayak ramai &lt;i style=""&gt;(participated). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lampiran 3 Keputusan Menpan No. 63/Kep./M.PAN/7/2003, paragraph I, butir c tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Layanan Publik, layanan publik oleh pemerintah dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kelompok Layanan Administratif, yaitu      layanan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang menghasilkan bentuk      dokumen resmi yang dibutuhkan oleh publik, misalnya status      kewarganegaraan, sertifikat kompetensi, kepemilikan dan penguasaan      terhadap suatu barang, dan sebagainya. Dokumen-dokumen ini antara lain:      Kartu Tanda Penduduk (KTP), akte pernikahan, akte kelahiran, keterangan      kematian, Buku Pemillikan Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Ijin Mengemudi      (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:stockticker&gt;&lt;span style=""&gt;SIM&lt;/span&gt;&lt;/st1:stockticker&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;), Surat Tanda Nomor      Kendaraan Bermotor (STNK), Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), paspor,      sertifikat kepemilikan / penguasaan tanah, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kelompok Layanan Barang yaitu layanan      yang menghasilkan berbagai bentuk/jenis yang digunakan oleh publik, misalnya      jaringan telepon, penyediaan tenaga listrik, air bersih, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kelompok Layanan Jasa yaitu layanan      yang menghasilkan berbagai jasa yang dibutuhkan oleh publik, misalnya      pendidikan, pemeliharaan kesehatan, penyelenggaraan transportasi, pos, dan      sebagainya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.2. Prinsip Pelayanan Publik&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Layanan publik tersebut di atas merupakan hak masyarakat yang dalam pelaksanaannya pada dasarnya mengandung prinsip-prinsip: kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jawab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisplinan-kesopanan-dan keramahan, dan kenyamanan.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn10" name="_ednref10" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Agak berbeda dengan rumusan prinsip-prinsip layanan publik tersebut di atas, &lt;i&gt;The Charter of Fundamental Right of the European Union &lt;/i&gt;dalam pasal 14 menyatakan prinsip-prinsip layanan publik sebagai berikut:&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn11" name="_ednref11" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Memperoleh penanganan urusan-urusannya      secara tidak memihak, adil, dan dalam waktu yang wajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hak untuk didengar sebelum tindakan      individual apapun yang akan merugikan dirinya diputuskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Hak atas akses untuk memperoleh berkas      milik pribadi dengan tetap menghormati kepentingannya yang sah atas      kerahasisaan dan atas kerahasiaan profesionalitasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kewajiban pihak admisitrasi Negara      untuk memberikan alasan-alasan yang mendasari keputusannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Memperoleh ganti rugi yang ditimbulkan      oleh lembaga atau aparatur pemerintah dalam menjalankan tugasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.3. Asas Pelayanan Publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Selain prinsip-prinsip di atas,dalam memberikan layanan kepada masyarakat harus berasaskan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Transparansi: bersifat terbuka, mudah      dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara memadai serta mudah dimengerti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Akuntabilitas: dapat dipertanggung      jawabkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kondisional: sesuai dengan kondisi dan      kemampuan pemberi penerima layanan dengan tetap berpegang pada prinsip      efisiensi dan efektivitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Partisipatif: mendorong peran serta      masyarakat dalam penyelenggaraan masyarakat dengan memperhatikan aspirasi,      kebutuhan, dan harapan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kesamaan Hak : tidak diskriminatif dalam      arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, dan status      ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Keseimbangan Hak dan Kewajiban: pemberi      dan penerima layanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing      pihak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Apabila prinsip dan asa layanan publik tersebut ditaati oleh pelaksana/pelayan publik dalam hal ini aparatur Negara, maka keluhan masyarakat terhadap rendahnya kualitas layanan npublik tidak harus muncul.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Munculnya keluhan dari masyarakat sebagai penerima layanan publik lebih banyak disebabkan belum termanifestasikannya prinsip-prinsip dan asas-asas layanan publik dalam pelaksanaan tugas aparatur Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;3. &lt;b style=""&gt;Kelembagaan Layanan Publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Dalam konteks pelayanan publik dapat dapat dipetakan paling tidak tiga pelaku sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penetapan kebijakan dalam layanan      publik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penyedia/pelaksana layanan publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Penerima layanan publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di Negara-negara yang mana pemerintah sangat dominant, seringkali pemerintah mendominasi sebagai pelaku pertama sekaligus pelaku kedua, sedangkan penerima layanan publik adalah masyarakat. Dalam perkembangannya, penyedia/pelaksana layanan publik tidak harus pemerintah karena sudah banyak terjadi contoh swastanisasi layanan publik. Pihak swasta telah masuk dalam relasi layanan publik, sehingga sekarang dalam konteks layanan publik terdapat tiga pihak yang saling berinteraksi, Dalam proses layanan publik masing-masing pihak memegang fungsi dan peran yang berbeda tetapi saling berinteraksi dalam lingkaran proses layanan public.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn12" name="_ednref12" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Banyak model yang dicoba untuk dikembangkan berkaitan dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;penyediaan layanan publik. Berkaitan dengan layanan publik di tingkat lokal, Leach&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn13" name="_ednref13" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; mengatakan bahwa eksistensi pemerintah lokal adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan menggunakan jalur atau mekanisme apapun yang paling memadai, apakah melalui pemerintah langsung, sektor swasta, maupun masyarakat. Savas (Savas, 1994) mengemukakan sepuluh model hubungan antara tiga pihak dalam layanan publik, yaitu:&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn14" name="_ednref14" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Government      service&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Government      Vending&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Intergoverment      Agreement&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Contract&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Franchise&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Grant&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Voucher&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Market&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Voluntary&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Self      Service &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;4&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Partisipasi Publik Dalam Pelayanan Publik&lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.1. Pengertian Partisipasi&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Sistem desentrasliasi diterapkan sebagai instrument untuk percepatan terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan publik, pemberdayaan, dan partisipasi masyarakat, serta daya saing daerah dengan tetap memperhatikan prinsip&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demokrasi, pemerataan, keadilan, dan keistimewaan daerah. Pelayanan public sebagai salah satu produk kebijakan dari pemerintah dalam pelaksanaannya haruslah tetap mengacu pada tujuan kerangka besar yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melalui salah satunya partsipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan salah satu nilai yang harus dikembangkan dalam penyelenggaraan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Gagasan partisipasi publik dalam pelayanan public pada dasarnya adalah satu ide untuk memungkinkan keterlibatan masyarakat dalam proses politik, terutama dalam perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi pelayanan publik. Partisipasi masyarakat dalam implementasi pelayanan publik ini merupakan upaya untuk melakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembatasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kekuasaan pengelolaan pelayanan publik supaya sesuai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan peraturan perundang-undangan yang ada dan untuk melakukan control sosial terhadap implementasi pelayanan publik. Dengan adanya partisipasi dalam pelayanan publik, diharapkan pemerintahan tidak lepas kontrol dalam implementasi pelayanan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dewasa ini pengertian pelaksanaan partisipasi seringkali hanya ditujukan untuk kegiatan pembangunan (baca: proyek) di tingkat lokal; sementara partisipasi untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat makro (baca: yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan kegiatan yang menggunakan uang masyarakat), termasuk yang berkaitan dengan kebijakan, belum banyak mendapat perhatian. Padahal partisipasi untuk kebijakan makro juga penting dan mempengaruhi seluruh tatanan kehidupan masyarakat.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn15" name="_ednref15" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Conchelos (1985)&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn16" name="_ednref16" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; membagi partisipasi menjadi dua jenis, yaitu partisipasi dalam pengertian teknis dan partisipasi dalam pengertian politik. Partisipasi teknis diartikan sebagai “taktik” untuk mengikutsertakan masyarakat dalam aktivitas: mendefinisikan masalah, mengumpulkan data, menganalisa data dan mengimplementasikan hasilnya. Sedangkan partisipasi politik diartikan sebagai pemberian kekuasaan dan kontrol kepada masyarakat melalui pilihan-pilihan untuk beraksi, berotonomi dan berefleksi terutama melalui pengembangan dan penguatan kelembagaan. Kegiatan partisipasi teknis yang tidak dilandasi dengan partisipasi politis, tidak akan memberikan makna yang signifikan bagi pembangunan masyarakat secara keseluruhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Secara sederhana Larry W. Canter (1977) mendefinisikan peran serta masyarakat sebagai &lt;i&gt;feed-forward information &lt;/i&gt;(komunikasi dari pemerintah kepada masyarakat tentang suatu kebijakan) dan &lt;i&gt;feedback information (&lt;/i&gt;komunikasi dari masyarakat ke pemerintah atas kebijakan itu). Dari sudut terminologi peran serta masyarakat dapat diartikan sebagai suatu cara melakukan interaksi antara dua kelompok; Kelompok yang selama ini tidak diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan (&lt;i&gt;non-elite) &lt;/i&gt;dan kelompok yang selama ini melakukan pengambilan keputusan (&lt;i&gt;elite) &lt;/i&gt;(Arimbi HP dan Mas Achmad Santoso&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;1993: 1).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.2. Partisipasi Masyarakat dalam Sistem Demokrasi Perwakilan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Terdapat asumsi, bahwa secara formal procedural demokrasi sudah bisa berjalan dengan adanya lembaga trias politika yang menyatakan bahwa kekuasaan negara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya terdiri dari tiga jenis lembaga yaitu: pertama, kekuasaan legislative yang mewakili berbagai golongan masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tugasnya membuat peraturan (undang-undang) dan mengontrol cara kerja serta kinerja lembaga ekskutif; kedua, ekskutif yang tugasnya melaksanakan undang-undangn untuk penyelenggaraan pemerintah sehari-hari dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat; ketiga, lembaga yudikatif yang mempunyai kekuasaan dan berfungsi menegakkan peraturan perundang-undangan. Adanya pembagian kekuasaan ini secara sederhana bisa dipahami dalam rangka untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan oleh pihak yang berkuasa dengan tidak menyerahkan segala urusan kenegaraan kepada satu orang atau satu lembaga saja. Dengan demikian diharapkan apabila antara ketiga lembaga tersebut saling melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka demokrasi bisa berjalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Dalam kenyataannya, dalam penyelenggaraan demokrasi bernegara berdasarkan trias politika mengalami &lt;i style=""&gt;bias&lt;/i&gt; pada kepentingan institusi dan orang yang ada di institusi sendiri. Bias itu terjadi berdasarkan kenyataan yang sering terjadi bahwa, dalam negara banyak warga negara (masyarakat) yang kebutuhannya seringkali justru tidak sejalan atau berseberangan dengan institusi-institusi negara, bahkan dengan lembaga legislative yang dianggap mewakili warga masyarakat itu sendiri. Pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kenyataannya seringkali lembaga-lembaga negara tidak menyuarakan dan memihak kepada masyarakat yang diwakilinya. Sistim demokrasi dengan penerapan trias politika nampaknya masih jauh dari prinsip-prinsip representatif.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn17" name="_ednref17" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Selanjutnya menurut Budi Rajab, sistem demokrasi yang dikembangkan faham trias politika mengingkari dictum sosiologis, yang dari pengalaman sejarah telah terungkap, bahwa sangat jarang ada institusi yang merepresentasikan secara utuh kepentingan pihak-pihak yang diwakilinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Menurut Jurgen Habermas,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn18" name="_ednref18" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; demokrasi yang selama ini berlangsung lebih bersifat formal procedural. Artinya , penyelenggaraan hidup bernegara hanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga formal kenegaraan, yang isinya menunjuk pada relasi-relasi antara lembaga ekskutif, legislatif, dan yudikatif, tanpa ada keterlibatan institusi-institusi kemasyarakatan. Demokrasi yang demikian dipandang tidak cukup karena yang disebut wakil tidak selalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sejalan bahkan bisa berseberangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan masyarakat. Oleh karena itu perlu dikembangkan bentuk demokrasi partisipatif, yang memungkinkan warga masyarakat melalui institusi-institusi yang dibentuknya bisa ikut serta atau terlibat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;langsung dalam penyelenggaraan negara, terutama dalam melakukan pengawasan atas cara kerja dan kinerja berbagai instutusi negara tersebut. Oleh karena itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perlu dikembangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;institusi yang ada di masyarakat untuk melakukan kontrol perilaku publik institusi kenegaraan dalam rangka melakukan pengendalian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.3. Prasyarat Partisipasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Banyak terjadinya penyimpangan dalam implementasi pelayanan public disebabkan salah satunya oleh adanya problem ketidakseimbangan penguasaan informasi antara masyarakat dengan pemerintah. Merebaknya perilaku korupsi di anggaran (APBD) karena tertutupnya akses informasi yang berkaitan dengan dokumen APBD. Paradigma bahwa dokumen APBD merupakan rahasia negara dan tidak semua orang dapat mengakses informasi tersebut telah menjadi penyebab terhambatnya control masyarakat terhadap praktek penyelenggaraan pemerintah. Padahal partisipasi dalam pengawasan dalam pelayanan public hanya mungkin terjadi ketika warga memiliki informasi yang memadai tentang dokumen-dokumen public. Kebebasan dan kapasitas warga untuk mengakses informasi dan dokumen public menjadi indikator penting bagi kemajuan tahapan partisipasi&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn19" name="_ednref19" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sebagai salah satu asas dalam penyelenggaraan negara yang baik. Asas keterbukaan ini diartikan sebagai asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;4.4. Bagaimana Partisipasi dalam Pelayanan Publik Dilakukan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat dilihat betapa pentingnya partisipasi masyarakat dalam setiap proses penyusunan kebijakan publik bagi pengembangan demokrasi penyelenggaraan pemerintahan. Karena begitu pentingnya partisipasi masyarakat, prinsip ini menjadi salah satu pilar dalam rangka mewujudkan &lt;i style=""&gt;good governance. &lt;/i&gt;Dalam konteks pelayanan public, paradigma baru yang menempatkan masyarakat hanya sebagai pelanggan sudah saatnya ditinggalkan. Pelayanan public bukan semata-mata kegiatan untuk mencari keuntungan tetapi harus dilihat juga sebagai kegiatan yang bernuansa social (bukan semata-mata bersifat ekonomis). Dalam aktivitas pelayanan public, masyarakat tidak hanya sebagai pelanggan tetapi juga sebagai pemilik negara dan pemerintah (penyelenggara layanan)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;à&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; dari hanya sebagai &lt;i style=""&gt;customer&lt;/i&gt; ke posisi sebagai &lt;i style=""&gt;owner&lt;/i&gt;. Sebagai pemilik dan pemberi mandat kepada pemerintah, sudah sewajarnya masyarakat dilibatkan dalam setiap tahapan perumusan dan pengambilan kebijakan public termasuk kebijakan dalam pelayanan publik, yang di dalamnya menyangkut jenis pelayanan yang dibutuhkan, cara terbaik untuk menyelenggarakan pelayanan public, mekanisme untuk mengawasi proses pelayanan dan mengevaluasi pelayanan publik.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn20" name="_ednref20" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Dengan demikian, pertisipasi merupakan salah satu pilar dari g&lt;i style=""&gt;ood governance &lt;/i&gt;dalam pelayanan publik selain transparansi, akuntablitas, dan &lt;i style=""&gt;fairness.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(47, 19, 17);font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk mewujudkan &lt;span style=""&gt;good governance&lt;/span&gt; maka dipandang perlu diatur partisipasi masyarakat dalam perymusan kebijakan pelayanan publik. Pemberian ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi ini sesuai dengan prinsip keterbukaan dalam negara demokrasi. Prinsip ini mengharuskan Penyelenggara Negara (pemerintahan) membuka diri terhadap hak masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif mengenai penyelenggaraan negara. Partisipasi public dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas public dalam proses pengambilan kebijakan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Meskipun mengetahui arti pentingnya dan manfaat partisipasi dalam pelayanan public, di banyak kasus pemerintah sering mengelabui masyarakat dengan menjadikan partisipasi hanya sebagai jargon untuk memperoleh legitimasi public. Partisipasi yang demikian tentu tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi masyarakat. Oleh karena itu paling tidak perlu diidentifikasikan metode atau instrument yang dapat digunakan untuk meningkatkan partisipasi. Urban Institute dan USAID, Pemerintah Skotlandia dalam penelitiannya yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tentang “Customer and Citizen Focused Publik Service Provision”, menyebutkan ada beberapa instumen yang dapat digunakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan pelayanan public, sebagai berikut:&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn21" name="_ednref21" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;membuat saluran untuk menampung keluhan      konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;membuat saluran untuk menampung      saran-saran dari konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Melakukan survai konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Melakukan kontak atau pertemuan dengan      konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Membuat forum untuk memperoleh masukan      kualitatif dari konsumen, misalnya membentu forum konsumen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Supaya partisipasi masyarakat lebih efektif maka instrument partisipasi harus disesuaikan dengan peran yang sedang dimainkan oleh masyarakat dalam proses penyediaan pelayanan public.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;font-size:85%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;CONTOH KASUS 1:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;Citizen's Charter dalam Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan di Kota Blitar&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_edn23" name="_ednref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;Masalah Pelayanan Publik yang ada sebelum dilakukan Partisipasi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Puskesmas bagai sebagaian masyarakat Kota Blitar merupakan pelayanan publik yang sangat vital. Hal ini karena tidak semua warga masyarakat di Kota Blitar mampu membayar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;biaya untuk memeriksakan diri ke dokter swasta pada saat mereka sakit. Sehingga apabila mereka sakit, Puskesmas masih menjadi tumpuan harapan satu-satunya untuk mencari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat kesembuhan. Sayangnya, sebagai salah satu pusat pelayanan publik yang menjadi andalan masyarakat, Puskesmas di Kota Blitar masih banyak menghadapi kendala. Survay layanan Puskesmas yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK-UGM) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Blitar menemukan berbagai permasalahan pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas di Kota Blitar diantaranya adalah: masyarakat pengguna Puskesmas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak mengetahui biaya secara pasti yang akan ditarik oleh Puskesmas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pada beberapa Puskesmas juga ditemukan masalah tentang minimnya fasilitas pelayanan kesehatan yang mereka sediakan dan rendahnya otonomi Puskesmas untuk menangani pasien yang perlu penanganan mendesak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Untuk mengatasi permasalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Puskesmas di Kota Blitar, Pihak Pemkot bekerjasama dengan PSKK-UGM berusaha memecahkan masalah tersebut dengan instrumen partisipasi publik yang disebut sebagai &lt;i&gt;citizen's charter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Partisipasi Publik melalui Citizen's Charter&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Pada dasarnya kegiatan &lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;merupakan suatu bentuk partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik di mana antara pemberi dan pengguna layanan, serta pihak-pihak yang berkepentingan &lt;i&gt;(stakeholders) &lt;/i&gt;secara bersama-sama membuat dan menyepakati suatu kontrak pelayanan menyangkut prosedur, waktu, biaya, dan cara pelayanan. Kesepakatan ini harus mempertimbangkan keseimbangan kepentingan antara penyedia dan pengguna layanan serta &lt;i&gt;stakeholders. &lt;/i&gt;Kesepakatan tersebut yang kemudian dijadikan dasar dalam praktek penyelenggaraan layanan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Sebelum sampai pada kontrak pelayanan tersebut, langkah awal yang dilakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;oleh pihak Pemkot Blitar dan PSKK-UGM adalah menandatangani nota kesepakatan untuk melakukan pelembagaan &lt;i&gt;citizen's charter. &lt;/i&gt;Nota kesepakatan ini ditandatangani pada tanggal 22 Juli 2003 di Balai Kota Blitar. Bersamaan dengan penandatanganan kontrak ini juga dilakukan seminar dengan mengundang semua &lt;i&gt;stakeholders &lt;/i&gt;yang terlibat dalam pelayanan kesehatan di Kota Blitar, Camat, Lurah, tokoh masyarakat, paramedis dan pers.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Langkah selanjutnya setelah seminar adalah pelembagaan &lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;kepada masyarakat luas melalui serangkaian acara talk show, penyebaran leaflet, poster dan buku tentang &lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;ini. Seteleh kegiatan ini dilakukan, maka tahapan berikutnya adalah pembentukan forum &lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;yang dilakukan melalui musyawarah. Anggota forum ini terdiri dari 16 orang yang terdiri dari 3 orang wakil puskesmas, 1 orang dari dinas kesehatan, 1 orang dari RSUD, 1 orang dari LPMK, 2 orang dari posyandu balita dan lasia, 1 orang pers, 1 orang dari kecamatan, 1 orang lurah, 1 orang dari UKS/Cabang Dinas Pendidikan, 2 orang dari LSM, 1 orang tokoh masyarakat, 1 orang PPLK KB, dan 1 orang anggota DPRD. Mereka yang ditunjuk menjadi anggota forum ini adalah mereka yang oleh masyareakat dianggap mempunyai komitmen untuk memperbaiki pelayanan publik di Kota Blitar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah forum ini terbentuk , maka forum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;bekerjasama dengan PSKK-UGM melakukan survai pengguna layanan untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna Puskesmas pada saat mereka ingin memperoleh layanan kesehatan dari Puskesmas. Selain melakukan survai, untuk memperkaya temuan, forum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;juga melakukan FGD&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang terpilih untuk memetakan permasalahan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Setelah permasalahan pelayanan Puskesmas teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah membuat kontrak pelayanan untuk mengatasi masalah pelayanan publik di Puskesmas. Melalui serangkaian kegaiatan yang melaibatkan penyelenggara layanan, masyarakat dan &lt;i&gt;stakeholders, &lt;/i&gt;akhirnya forum &lt;i&gt;citizen's charter &lt;/i&gt;dengan difasilitasui oleh PSKK-UGM berhasil merumuskan kontrak pelayanan. Agar kontrak pelayanan ini diketahui oleh masyarakat luas yang akan menggunakan layanan puskesmas, setelah disepakati , kontrak pelayanan ini disosialisasikan kepada masyarakat dengan berbagai cara, misalnya melalui radio, sekolah, paramedis, dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;Perubahan Pelayanan Publik Setelah ada Citizen's Charter &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Meskipun pada awalnya implementasi kontrak pelayanan ini banyak mengalami kendala namun akhirnya dapat teratasi. Dari kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh PSKK-UGM, Tim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;citizen's charter&lt;/i&gt; Pemkot Blitar, Dinas Kesehatan, Forum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;citizen's charter, &lt;/i&gt;dan masyarakat pengguna layanan, berhasil menemukan perbaikan-perbaikan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan setelah diimplementasiukannya kontrak pelayanan, yang terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(1)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Para Petugas Puskesmas menjadi lebih ramah, bersikap sopan, tidak merokok, dan tidak melakukan pekerjaan lain sewaktu melayani pasien.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(2)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Petugas memberikan pelayanan sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(3)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Prosedur pelayanan menjadi lebih jelas sesuai dengan kontrak pelayanan yang telah disepakati .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(4)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Penampilan para petugas lebih bersih dan rapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;(5)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Pengguna layanan dapat menyampaikan kritik dan keluhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;5. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Tantangan-Tantangan dalam Partisipasi Pelayanan Publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam upaya untuk berpartisipasi dalam pelayanan publik, masyarakat seringkali menghadapi beberapa kendala. Kendala-kendala tersebut bisa berasal dari diri masyarakat sendiri dan bisa juga berasal dari pemerintahan. Kendala-kendala tersebut antara lain berupa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Sistem yang terbangun belum memberikan ruang yang luas, aman, dan memadahi bagi pengembangan partisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Masih rendahnya kesadaran masyarakat bahwa pelayanan publik merupakan bagian dari kehidupan sosial-politiknya yang oleh karenanya masyarakat harus juga terlibat dalam proses pengambilan kebijakan berkaitan dengan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Masih rendahnya kapasitas atau kemampuan masyarakat untuk melakukan partisipasi. Dalam melakukan partisiapsi dalam pelayanan publik dibutuhkan keaktifan masyarakat.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Partisipasi membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas karena esensi dari partisipasi adalah masyarakat aktif. Tanpa masyarakat aktif, ruang partisipasi yang sudah terbuka tidak akan dapat dimanfaatkan secara optimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Belum terbangun kemauan dan komitmen politik &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dari sebagian besar Pemerintah untuk menciptakan transparansi pelayanan publik. Anggapan bahwa pemerintah telah menerima mandat yang penuh dari masyarakat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan sumber dari ketidakterbukaan pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Dengan demikian akses masyarakat untuk memperoleh informasi berkaitan dengan pelayanan publik prasyarat partisipasi menjadi tidak ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Belum terbangun kemauan dan komitmen politik &lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dari legislative untuk melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan fungsi kontrol terhadap pelayanan publikj. Bahkan dalam banyak kasus oknum anggota DPRD terlibat dalam berbagai penyimpangan pelaksanaan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Sudah berkembangnya kultur tanpa partisipasi dalam pelaksanaan pelayanan publik, sehingga partisipasi sering dimaknai sebagai ekspresi resistensi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Sistem informasi pelayanan publik masih bersifat pasif. Untuk mendapatkan informasi, masyarakat sendiri yang harus mencari informasi berkaitan dengan segala yang berkaitan dengan pelayanan publik. Sistem ini jelas tidak mendorong inisiatif masyarakat untuk mengambil bagian dalam proses pengawasan terhadap pelayanan publik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Perangkat hukum yang dapat menjadi dasar yang memberikan jaminan bagi partisipasi masyarakat masih minim. Perangkat hukum yang memberi ruang bagi partisipasi masyarakat ini penting karena selain supaya masyarakat mengetahui hak, kewajiban, tanggungjawab serta mekanisme dalam berpartisipasi, masyarakat juga memperoleh perlindungan hukum dalam menggunakan haknya tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;6. Rekomendasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;Berkaitan dengan uraian etrsebut di atas, hal-hal yang penting dilakukan dalam rangka mendorong partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Perlu dilakukan upaya penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya partisipasi dalam pelayanan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Perlu dilakukan penguatan kapasitas masyarakat misalnya dengan pelatihan-pelatihan tentang bagaimana berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Selalu mendorong pemerintah untuk membuka ruang-ruang partisipasi dalam peneyelenggaraan pelayanan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;Mendorong terjadinya upaya untuk menciptakan akses informasi yang mudah bagi masyarakat berkaitan dengan perolehan informasi dokumen publik yang berkaitan dengan pelayanan publik.*** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 6pt 36pt; text-align: justify; line-height: 125%;"&gt;&lt;span style="line-height: 125%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportEndnotes]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="left"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="edn1"&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref1" name="_edn1" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;* &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Disampaikan pada “Pelatihan Partisipasi Warga dalam Pengelolaan Pelayanan Publik Dasar” yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Sejahtera (YIS) pada tanggal 30 November 2006 di Wisma “ASRI” Tawangmangu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn2"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref2" name="_edn2" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Staff&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peneliti pada Pusat Penelitian Politik Lokal Lembaga Percik, dan Advokad pada Biro Pelayanan dan Bantuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum (BPBH) Percik. Organizing Committee (Fasilitator Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Metode) Forum Pengambangan Partisipasi Masyarakat (FPPM) periode April 2004 - Juni 2006.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn3"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref3" name="_edn3" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah pasal 1 ayat (7).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn4"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref4" name="_edn4" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lampiran 3 Keputusan Menpan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;No. 63/Kep./M.PAN/7/2003, paragraph I, butir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;C.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn5"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref5" name="_edn5" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Untuk penyelenggaraan pemerintah yang baik ini telah diterapkan aturan formal berupa Undang-undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Negara yang Bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Dalam UU tersebut asas penyelenggaraan negara terdiri dari: asas kepastian hukum; asas tertib dalam penyelenggaraan Negara; asas kepentingan umum; asas keterbukaan ; asas proporsionalitas; dan asas akuntabilitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn6"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref6" name="_edn6" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Bdgk, “Otonomi Daerah dan Layanan Publik”, dalam http://www.pu.go.id/itjen/buletin/3031otoda.htm.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn7"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref7" name="_edn7" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Komisi Hukum Nasional (KHN) , “Reformasi Sektor Layanan Publik”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn8"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref8" name="_edn8" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Bandingkan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ihsan Haerudin, “Anggaran Pro Rakyat Miskin”, &lt;i style=""&gt;Bujet, &lt;/i&gt;Edisi 9/Oktober 2003, hal. 48 – 49.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn9"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref9" name="_edn9" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Agus Priyanto, “Mendorong&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Partisipasi Publik untuk Transparansi APBD”, &lt;i style=""&gt;Bujet, &lt;/i&gt;Edisi 10/Nopember – Desember 2003, hal. 43-44. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn10"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref10" name="_edn10" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lampiran 3 Keputusan Menpan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;No. 63/Kep./M.PAN/7/2003, paragraph V.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn11"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref11" name="_edn11" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Komisi Hukum Nasional (KHN), &lt;i style=""&gt;op. cit. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn12"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref12" name="_edn12" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Terhadap swastanisasi layanan publik ini masih terjadi perdebatan. Diskusi untuk ini, lihat antara lain Ikhsan Haerudin, “Reformasi Pelayanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Publik” &lt;i style=""&gt;Pikiran Rakyat, &lt;/i&gt;Selasa 24 September 2002.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn13"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref13" name="_edn13" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam Roy V. Salomo dan Jamal bake, “Administrasi Publik, Aransemen Kelembagaan dan reformasi Pelayanan Publik di Tingkat Lokal”, &lt;i style=""&gt;Jurnal &lt;/i&gt;PSPK, Pusat studi Pengembangan Kawasan, Edisi 1, Februari 2002, &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, hal. 9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn14"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 6pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref14" name="_edn14" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Savas, ES, Privatization: The Key To Better Government (New Jersey: Chatham House Publishers Inc., 1994) dalam Roy V. Salomo dan Jamal Bake, &lt;i style=""&gt;ibid. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn15"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref15" name="_edn15" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat Ganjar Kurnia, “Jangan Ada Rahsia Diantara Kita”, &lt;i style=""&gt;Bujet, &lt;/i&gt;Edisi 3, Pebruari 2003, hal. 43-44.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn16"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref16" name="_edn16" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam Ibid, hal. 43.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn17"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref17" name="_edn17" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Budi Rajab, “Pengawasan Masyarakat atas Institusi Kenegaraan”, &lt;i style=""&gt;Bujet, &lt;/i&gt;Edisi 10 / Nopember-Desember 2003, hal. 46.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn18"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref18" name="_edn18" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam &lt;i style=""&gt;Ibid&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn19"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText" style="margin: 5pt 0cm;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref19" name="_edn19" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Suhirman, “Mendefinisikan Partisipasi: Penelusuran Awal Atas Konsep, Tahap, Dan Dinamika Partisipasi”, Makalah disampaikan dalam Pertemuan Forum Pengembangan partisipasi Masyarakat ke-7 (PF &lt;st1:stockticker&gt;VII&lt;/st1:stockticker&gt; FPPM) di Ngawi, 15 – 18 Juli 2003.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn20"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref20" name="_edn20" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Bdgk Agus Dwiyanto (ed), &lt;i style=""&gt;Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik, &lt;/i&gt;Japan Internasional Cooperation Agency&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(JICA) – Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 2005, hlm 194.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn21"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref21" name="_edn21" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Ibid, &lt;/i&gt;hal. 199.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn22"&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref22" name="_edn22" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:phone phonenumber="$6200$$$" o_x003a_ls="trans"&gt;&lt;/st1:phone&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="edn23"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=724704931144413147#_ednref23" name="_edn23" title=""&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="EndnoteCharacters"&gt;&lt;span style=""&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber: Pelembagaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;C&lt;i&gt;itizen's Charter &lt;/i&gt;dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Kota Yogyakarta, Kabupaten Semarang, dan Kota Blitar, PSKK-UGM dan Ford Foundation, 2004, dalam Agus Dwiyanto, ed, &lt;i&gt;op. Cit. &lt;/i&gt;Hal. 206-209.&lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/724704931144413147-8772906709678964214?l=slametluwihono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://slametluwihono.blogspot.com/feeds/8772906709678964214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=724704931144413147&amp;postID=8772906709678964214' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/8772906709678964214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/724704931144413147/posts/default/8772906709678964214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://slametluwihono.blogspot.com/2008/08/konsep-dan-mekanisme-pelayanan-publik.html' title='KONSEP DAN MEKANISME PELAYANAN PUBLIK DASAR'/><author><name>luwihono.blog</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17522907050480427241</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_AfA-4oOjxlQ/SKEJlZ7bc9I/AAAAAAAAABo/FLVhdFEUGWU/s1600-R/Pas%2BPhoto_Slw_02.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
